Hujan Bulan Juni: Novel

1:04:00 PM



Finally, finished this book! Dari awal pertama baca udah niat banget harus bikin review di blog untuk buku ini. Guess why? Cause I'm fall in love with the cover of this book!!! Hahaha yups, kata orang "never judge the book by its cover", tapi yauda yaaa beginilah saya sukanya liat cover keren kaya buku ini hehehe.
Kesan pertama: Covernya bagussss, pengarangnya kayaknya sastrawan gitu, kayaknya isi bukunya bakal kaya sastra-sastra berat gitu, tapi dilihat dari tebalnya, yaaaa masih bisa lah dicerna oleh otak saya.
Saat membaca: Nama karakternya tipikal Jawa zaman dulu gitu (wkwk .__.) apa latarnya pas zaman 90an ya? Tapi semakin dibaca saya sadar ini cerita berlatar tahun 2015an (gatau tepatnya, segitu sih kayaknya). Penggunaan WA yang tiba-tiba ada, selfie, dan lain-lainnya.....I can related to it. Isi ceirtanya menarik, tipikal isu zaman sekarang diantara orang-orang yang berpacaran. Bukan jarang, isu agama dan budaya jadi bahasan dan isu yang cukup sensitif, bahkan di kalangan saya dan teman-teman. Saya suka dengan ide ceritanya, menggangkat isu yang benar-benar nyata, dengan kegiatan sehari-hari yang juga nyata terjadi di kehidupan sehari-hari kita. Tapi, cara berpikir si karakter kadang bikin bingung. Saat baca kadang saya merasa berada di tahun 80an atau 90an, tapi kemudian penggunaan teknologi secara tiba-tiba, buat saya sadar kalo ini cerita latarnya tahun ini loh...bukan 90an apalagi 80an. Satu hal yang juga jadi perhatian saya adalah penggunaan tanda baca (terutama koma). Awalnya saya tidak begitu sadar, tapi hasil mencari review di goodreads, saya jadi menyadari penggunaan koma yang kadang seharusnya ada malah tidak digunakan. Tapi bukan hal yang besar, sebagai pembaca yang lebih mementingkan isi cerita dibanding cara penulisan, menurut saya masih bisa diterima selama tulisan tersebut bisa dimengerti. Selain tanda baca dan latar waktu yang cukup membingungkan, saya juga agak bingung dengan alur ceritanya. Entah ini harus disebut alur maju, mundur atau maju-mundur-maju. Entahlah. Tapi tidak bisa saya pungkiri, saya suka dan senang dengan cerita yang terkesan sastra tetapi ringan dan bisa dibaca bahkan saat lagi pusing dan ribet pikirannya :)
Saat selesai membaca: Saya benci akhir cerita seperti ini :"" gantung banget... Agak kecewa dengan akhirnya, karena menurut saya cerita ini sudah menghadirkan konfliknya, tetapi tidak ada penyelesaiannya. Jujur saja saya penasaran dengan solusi yang ditawarkan Eyang Sapardi untuk masalah yang dibuat sendiri olehnya. Pertanyaan terbesar saya..."Jadi Pingkan dan Sarwono nikah gak sih?? Agamanya? Budayanya??" (pertanyaan tipikal anak kepo...hehehe...) Hal menarik lainnya adalah penulisan dan pemilihan kata yang terkesan puitis. Mungkin sebagai seorang poet kebanggaan Indonesia, Eyang Sapardi masih terbiasa memilih kata-kata puitis bahkan untuk penulisan novel seperti ini. Sebagai orang yang mengagumi karya-karya setipe puisi, saya senang membacanya. Dan.....puisi di akhir buku ini, I love it!!!! Buku puisi Hujan Bulan Juni dan juga buku-buku lainnya karya beliau dengan sukses masuk di wish-list books yang harus saya beli :))))

Overall, I like this book! I'm in love with the poets in this book. Three stars worth the whole book.



You Might Also Like

0 comments

Instagram